Wakil Ketua Umum II DPP LVRI, Marsdya TNI (Purn.) Wresniwiro, mengapresiasi gagasan menjadikan Perpustakaan DPP LVRI sebagai Pusat Literasi Perjuangan Bangsa. Hal tersebut disampaikan saat meninjau langsung perpustakaan di Mabes LVRI, baru-baru ini.

Menurutnya, perpustakaan LVRI memiliki nilai strategis yang tidak dimiliki lembaga lain. “Perpustakaan ini selayaknya menjadi pusat literasi kisah perjuangan bangsa. Hanya di LVRI keinginan itu bisa diwujudkan, karena ditempat ini adalah merupakan sumber sejarah dan tempat para pelaku pejuang berada,” tegasnya.

Waketum II menekankan pentingnya upaya menggali, mengumpulkan dan memperkaya bahan bacaan terkait sejarah perjuangan nasional. Ia menilai bahwa LVRI memiliki tanggung jawab moral untuk memulai gerakan tersebut. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang memulai pekerjaan ini?” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa para veteran memiliki keterikatan langsung dengan berbagai peristiwa besar bangsa, mulai dari Perang Kemerdekaan 1945–1949, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Operasi Seroja di Timor Timur, hingga penugasan luar negeri dalam misi Pasukan Perdamaian PBB di berbagai negara.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Waketum II turut menyerahkan sumbangan 22 judul buku untuk menambah koleksi perpustakaan LVRI.

Sebelumnya, ia juga telah memberikan 10 judul buku, termasuk beberapa karya tulisannya sendiri.

Dengan terus bertambahnya koleksi, Marsdya TNI (Purn.) Wresniwiro berharap bahwa perpustakaan LVRI kelak terus dapat berkembang menjadi pusat literasi yang bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai perjuangan bangsa.**