Ada beberapa kebiasaan di masyarakat yang bisa menjadi ancaman terhadap kesehatan mata, di antaranya paparan blue light dari gadget, kurangnya deteksi dini dan kebiasaan buruk, penuaan alami (katarak dan glaucoma), serta diabetes dan komplikasi retina.
Demikian dijelaskan oleh dr. Daria Putri Roman, Head of Education IEC Eye Care dalam paparan kesehatannya di hadapan unsur Pimpinan DPP LVRI, Pengurus DPP LVRI, PP PIVERI, dan karyawan/karyawati DPP LVRI; di Aula Karya Dharma lantai 12B Gedung Veteran RI, Jakarta, Selasa (21/4/2026) pagi.
Acara yang diberi tajuk “Mata Lelah di Usia Produktif Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya” itu dihadiri Waketum I DPP LVRI Letjen TNI (Purn) Muzani Syukur dan Waketum II DPP LVRI Marsdya TNI (Purn) Wresniwiro. “Saya atas nama Pimpinan mengucapkan terima kasih kepada IEC Eye Care yang memberikan penjelasan tentang katarak. Rata-rata, orang kalau sudah ‘kepala’ enam, mulai katarak. Tapi, itu juga tergantung dengan pola hidup seseorang,” kata Waketum I DPP LVRI dalam sambutan singkatnya.

Dr. Daria menjelaskan, katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata di dalam bola mata seseorang berubah kejernihannya. Kekeruhan ini terjadi karena perubahan struktur protein sel-sel lensa mata. Penyebabnya karena infeksi masa kehamilan, genetika, trauma, obat-obatan (misal steroid, infeksi, aging process, dan lainnya. Akibatnya terjadi gangguan penglihatan dari yang ringan sampai berat (kebutaan).
Menurut dr. Daria, katarak hanya bisa “diobati” dengan tindakan operasi, dan operasi dilakukan jika ada indikasi: sudah terjadi komplikasi ringan atau berat (glaucoma dan uveitis), adanya tanda-tanda ancaman terjadinya komplikasi (glaucoma dan kebutaan), dan gangguan penglihatan yang menyebabkan gangguan aktivitas harian dan pekerjaan atau bahkan menimbulkan disabilitas.
Paparan kesehatan mata itu diisi dengan tanya jawab dan pemeriksaan mata, baik untuk katarak maupun mata minus, mala plus, dan silendris.
